Food Photography: A Skill or Trend?


Apa yang biasanya lo liat di menu selain deskripsi produknya? Melihat foto makanan bukan? Nah itulah yang mau gue bahas di sini. Fotografi makanan mungkin sudah lazim dikenal sebagai salah satu cabang fotografi. Jenis fotografi ini memang teknik memotret makanan sehingga makanan terlihat indah dan menggiurkan untuk dicicip. Fotografi makanan selalu memperhatikan teknik presentasi sebuah makanan, komposisi dan warna. Detail pun diperlukan dalam fotografi makanan karena tidak cuma indah tapi juga mampu menarik perhatian konsumen.


Fotografi makanan sangat memperhatikan bagaimana komposisi detail makanan, tak harus rapi, namun mempunyai nilai menggiurkan. Anggaplah telur di atas roti ini hanya berupa telur yang bulat, mungkin tidak begitu menarik, berbeda halnya jika telur ini dikeluarkan isinya dan diambil di momen yang tepat. Tak cuma berlaku di makanan, food photography juga menjangkau produk beverage dan berbagai produk yang bisa kita konsumsi. Hasil paling nyata dari fotografi makanan ada di buku menu. Di saat orang lain membuka buku menu, mereka akan bisa membayangkan kelezatan makanan dengan hanya melihat foto makanannya saja.


Fotografi makanan kemudian membutuhkan skill tertentu, tak cuma memahami pengetahuan tentang fotografi tapi juga pemahaman mendalam mengenai makanan yang akan diambil gambarnya. Perkembangan jaman yang berarti perkembangan teknologi membuat segalanya terasa lebih mudah dan instan. Teknologi melahirkan gadget-gadget yang luar biasa, baik sistem hingga fasilitas kamera yang dimilikinya. Fasilitas-fasilitas luar biasa pada gadget ini kemudian memunculkan gaya hidup dan tren baru. Tren selfie misalnya, adalah tren yang dimunculkan karena fasilitas kamera luar biasa dan aplikasi editing yang keren, sehingga mengakomodasi mereka yang ingin mendapatkan apresiasi diri. Tren lain yang muncul adalah tren memotret makanan sebelum dimakan. Tren ini gue rasa muncul ketika ada fasilitas yang keren di gadget. Sekarang banyak orang memiliki smartphone dengan aplikasi luar biasanya. Akhirnya mulai banyak orang yang memotret makanannya karena ingin mendapatkan apresiasi diri atas apa makanan yang dia makan. Beberapa orang "pamer" dan ingin unjuk gigi atas apa yang dia konsumsi, sehingga dia memamerkan foto makanan tersebut dan membagikannya di media sosial. Beberapa orang lain menganggap, semakin cantik dan mahal makanan itu, semakin dia ingin memotretnya karena ingin mendapatkan pengakuan sosial yang berujung pada kelas sosialnya.



Yang menjadi refleksi adalah apakah kemudian tren memotret makanan ini termasuk ke dalam fotografi makanan? Apakah kemudian tren ini bisa disebut skill? Ya mungkin sebagian dari tren ini bisa disebut skill jika memperhatikan unsur-unsur dasar fotografi makanan. Tak cuma ajang keren-kerenan atas apa yang dia konsumsi. Memang teknologi diciptakan untuk mempermudah apa yang kita lakukan, misalnya tidak punya kamera keren dan cuma punya smartphone yang memiliki fasilitas keren, sehingga memungkinkan untuk memotret makanan dengan warna dan filter yang keren. Seharusnya tren memotret makanan ini tak cuma untuk mendapat apresiasi sosial, namun juga ajang belajar kita. Anggaplah sekarang semua smartphone memotret makanannya sebelum dimakan, tak ada salahnya bukan dia sekalian belajar tentang bagaimana memotret makanan yang indah? Teknologi dan tren membuatnya belajar mengenai aspek-aspek serta komponen apa saja yang ada di fotografi makanan. Pengguna smartphone bisa lebih mudah belajar fotografi makanan dengan bantuan internet dan gadget yang dimiliki. Semua ini kemudian berimbas pada hasil memotret makanan yang luar biasa. Siap dicoba?

No comments:

Post a comment